Termenung
Di dunia ini takada yang sempurna
Termasuk saya yang menulis tulisan ini
Terdiam…
Terdiam…
Menunduk…
Menunduk…
Termenung…
Termenung…
Namun saat itu saya sedang dilanda kebingungan hingga tak sadar apa komentar saya sendiri tentang sikap yang saya ambil..
Saya akui sikap yang saya ambil salah
Karena saya membiarkan itu terjadi
Saya melalakukan itu dibelakang perlahan
Sampai memang saatnya saya katakan yang sebenarnya
Terimakasih untuk kalian yang ada disaat saya meneteskan air mata.
Disaat air mata itu mulai mengalir tak lama kemudain ada hal konyol apapun yang membuat saya langsung mengjhapus air mata itu.
Saran-saran kalian sebenarnya saya tampung. Tapi sekarang saya jadi merasa bersalah. Maka dari itu saya meminta maaf pada kalian. Saya rasa, saya belum berhasil bukan tidak berhasil. Saya mencoba menasehati diri saya sendiri. Dan yang membuat saya menjadi semangat. Tanpa kalian saya tak tahu apa jadinya saya.
Duduk dipojok sendirian termenung dengan apa yang telah terjadi tanpa suara tertawaan kalian sebagai pengiring cerita tersebut.
Saya juga tahu tak semua orang paham akan tulisan saya ini. Intinya saya hanya ingin meminta maaf pada kalian karena saya bisa dibilang tak menggunakan kepercayaan kalian sebagai pemegang amanah. Sudahlah saya tak kuat lagi menulis tulisan ini.
Tulisan ini akan saya persingkat menjadi lebih ringkas dan lebih istimewa pada saat mood saya mendukung..
hahha maaf kalian. awalnya, saya ingin serius untuk menulis tulisan ini. tapi entah mengapa. mungkin karena mood saya pada waktu itu yang tak karuan, saya jadi mengurungkan niat saya. unutk soal tulis-menulis memang menggunakan mood. kalau saya, punya ide untuk buat tulisan tapi waktunya ga tepat, saya akan tunda. sehabis itu mood saya hilang deh. malah ga jadi nulis deh haha. nulis tanpa mood, ga akan enak. mending gausah sekalian. tulisan itu hasilnya akan lebih terasa indah kalau dibuat menggunakan perasaan. iya bukan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar